Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2018

Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 4)


Kamis, 14 September 2017

Gedung E




     Sebuah plang bertuliskan “Perpustakaan” terlihat di depan pintu yang berada di samping gedung. Gedung E, begitu nama gedung ini disebut. Gedung E merupakan ruang perpustakaan yang tidak terlalu “perpus”. Namun entah kenapa saya merasa ruangan ini yang paling homie dari semua gedung di Lawang Sewu. Meski panas udara Semarang masih terasa sekali sih.


Perpustakaan adalah sebuah tempat yang library.

    Tidak banyak koleksi yang dipamerkan di ruangan ini. Di bagian ruangan yang paling besar, hanya ada beberapa tulisan mengenai informasi Lawang Sewu, rak penyimpanan blue print, puzzle bergambar Lawang Sewu dan kereta uap Ambarawa, dan lainnya lupa. Di depan pintu keluar, kalian bisa menemukan timbangan barang jadul yang sudah tidak terpakai. Timbangan seperti ini saya pernah melihat juga di Museum Kereta Api Ambarawa. Kalau jaman saiki, mungkin akan berguna bagi Tiki. Lalu Tiki menjawab, “Mungkin akan lebih berguna untuk kamu, Tika”. Ok. 





Monmaap, saya lupa ini apa. Soale keburu Mase ge-er karena saya motoin dia.


Puzzle. 





Timbangan barang
   
     Masuk ke bagian ruangan lain, terdapat satu meja besar beserta kursi-kursinya. Di dekatnya terpajang sebuah rak berisikan beberapa koran dan majalah dengan kearifan lokal, Panjebar Semangat. Tahu Panjebar Semangat kan? Yang pasti disini tidak ada buku anggota keluarga Thunder seharga rong yuta dengan bonus video call itu ya, adek-adek. Sepertinya memang ruangan ini ditujukan sebagai ruang baca. Kita bisa duduk-duduk sembari membaca majalah tersebut. Asyik ta? Cukup membaca majalah saja ya, karena kalau membaca nasib orang lain biar menjadi tugas Mbah Mijan. 



Bukan. Ini bukan Mbah Mijan.

     Tapi itu belum seberapa, karena ada yang lebih mengasyikkan. Saya melangkahkan kaki menuju pintu depan ruangan ini. Sejenak saya menikmati suasana halaman depan Lawang Sewu dan suara klakson yang saling bersautan di tengah kepadatan lalu lintas Jl. Pemuda, Semarang dari teras. Ya… gedung ini memiliki teras dengan satu set meja dan kursi rotan. Berasa di rumah sendiri ta? Tinggal kopi dan tahu petis saja yang belum ada. Mungkin teras ini kalau malam dipakai para meneer dan mevrouw untuk santai sembari streaming Karma. Barangkali mereka rindu Roy Kiyoshi.


Quw maw ketawa, boleh? (Source: Youtube DMI Videos)

     Ruang ini menjadi spot terakhir yang kami kunjungi di Lawang Sewu. Saya pamit dari Lawang Sewu dengan segenap rasa penasaran akan ruang bawah tanah, “loteng”, dan suasana Lawang Sewu kala malam hari (sok berani wanjeerrr!). Ah! Saya bahagia, akhirnya cerita Lawang Sewu bisa saya tuntaskan. Monmaap jika postingan ini berakhir seperti bawang goreng Mie Sedap. Kriuk!

Tak kasih bonus dikit deh...





Maturnuwun, Lawang Sewu!
Semoga dan berharap bisa kembali.
Ketjoep!



Kamis, 05 April 2018

Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 3)

Kamis, 14 September 2017






      Sebuah pohon mangga besar nan tua menjulang tinggi di tengah halaman kompleks Lawang Sewu. Bangku-bangku besi berwarna hitam mengelilingi di bawahnya. Terlihat beberapa orang sedang duduk-duduk santai. Dedaunannya yang rindang seakan memayungi para pengunjung Lawang Sewu dari “cerahnya” matahari Kota Semarang.

“Sepertinya enak “ngidhum” disitu,” batin saya dari balik jendela Gedung B.

     Teduhnya pohon mangga ini memang membuat pengunjung betah berlama-lama di bawahnya. Ngaso-ngaso sembari rasan-rasan. Ngrasani Mbak Lucinta Luna mungkin (Mbak atau Seus?). Dari sini mata kita bisa bebas menikmati bangunan Lawang Sewu. Spot ini pun menjadi semacam ruang tunggu:
  • Ruang tunggu bagi yang lelah
  • Ruang tunggu bagi yang tidak tahan gerah
  • Ruang tunggu bagi yang takut menjelajah

Di post sebelumnya, ketika saya bilang ada ruangan paling atas di Gedung B, ya yang atas sendiri itu. Semacam loteng, tapi luas sekali. Katanya. Tapi tidak lebih luas dari dosa saya. 




***

     Keluar dari Gedung B, kerongkongan rasanya seperti Waduk Lalung di musim kemarau. Kering kerontang. Sebotol wadah Tapukware berisi air minum yang kami bawa, sudah hampa isinya. Panasnya Kota Lunpia ini sepertinya membuat saya kehilangan sebagian iong tubuh. Tandanya, saya harus segera mencari sebotol Pocari Sweat agar bisa kembali beraoi aoi.

     Jika butuh minuman, kalian tidak perlu repot-repot mencari dua sejoli, Alfamart atau Indomaret. Di dalam kompleks Lawang Sewu terdapat beberapa booth penjaja minuman dan makanan ringan. Tepatnya berada di belakang Gedung C. Kalau di peta Lawang Sewu, ditulis sebagai Gedung D (area merokok/ruang tunggu/gudang). Bagi yang ingin mencari makanan khas Indonesia juga banyak. Pop Mie.

***
Gedung C

     Seusai menikmati sebotol air minum dingin sembari ngidhum di bawah pu’un mangga, saya masuk ke Gedung C. Langkah manja saya disambut oleh beberapa gambar bangunan gedung-gedung di Lawang Sewu. Lantai 1 gedung ini memamerkan hal-hal  sarat informasi  yang berkaitan dengan sejarah Lawang Sewu, khususnya mengenai pemugarannya. Maka dari itu, lantai 1 ini dinamakan Ruang Informasi Pemugaran. Sementara lantai 2 difungsikan sebagai kantor pengelola.   






     Sebagai bangunan tua, Lawang Sewu tentu mengalami proses renovasi dan perawatan agar bangunan gedung tetap terpelihara dengan bagus. Proses renovasi gedung Lawang Sewu tersebut terbingkai apik dalam sebuah kolase foto yang dipajang di dalam ruangan ini. Yang menarik adalah cara “penyajiannya”. Kolase foto dipajang dengan desain "meliuk", tidak sekedar flat seperti muka saya melihat mantan-mantan sudah momong anak semua.



Kolase foto

     Selain kolase foto, terdapat pula beberapa etalase untuk memajang printilan-printilan, seperti engsel, handel, rumah kunci, kaca, dan lain sebagainya. Benda-benda tersebut dipajang berjejer antara yang orisinil dan replika. Yang orisinil tentu saja dari jaman Belanda. Tapi kalau you mencari foto orisinil dan replika Mbak Lucinta Luna, tentu tidak ada disini. 







     Lalu terdapat satu etalase yang berisi beberapa bahan untuk pengawetan kayu agar tetap kokoh. Bergeser sedikit, seperangkat tuas yang berfungsi untuk mengatur lalu-lintas kereta api pada jaman dulu terlihat masih terawat. Blue print Lawang Sewu pun turut dipajang, sehingga kita bisa sedikit melihat denah bangunan dan gambar kerja gedung-gedungnya. Bener ora?


Bahan untuk pengawetan kayu

Blue print Lawang Sewu

Hari beranjak siang dan suasana mulai ramai. Saya pun menuju gedung berikutnya. Gedung pernikahan.


Next: Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 4)


Selasa, 12 Desember 2017

Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 2)

Kamis, 14 September 2017





Gedung B

     Keluar dari Gedung A, kami menuju gedung selanjutnya, yaitu Gedung B yang disebut sebagai Ruang Komersial. Begitu masuk, mata saya menangkap satu spot yang cukup memancing perhatian. Di sisi kanan, tepat di bawah tangga, ada 1 ruangan ke bawah yang menurut saya itu terhubung dengan ruang bawah tanah. Namun tidak ada akses untuk turun, sehingga kita hanya bisa menengok dari atas. Kondisinya pun sangat gelap. Saya mencoba menyalakan senter di ponsel untuk menyorot suasana di dalamnya. 

    Kita yang melongok dari atas juga harus hati-hati. Diusahakan untuk tidak terlalu mendekat karena tidak ada pembatas apapun di luar. Kondisinya benar-benar gelap, sehingga kita tidak tahu "wujud" ruangannya seperti apa. Kalau sampai njlungup, dikhawatirkan nanti kalian masuk ke dunia Alice in Wonderland. Tapi monmaap saya tidak punya stok foto ruangan ini karena ngeblur semua dan jempol saya reflek menghapusnya langsung. Horor? Oh. Bukan. Memang tangan saya saja yang jahanam tidak bisa motret.

     Menyusuri koridor gedung berlantai 2 ini, saya merasakan suasana klasiknya lebih terasa. Mulai dari model ruangan dengan atapnya yang tinggi, lantainya, hingga anak tangganya pun masih mempertahankan gaya lawasnya. Apalagi ketika melihat anak tangganya dari bawah, sedikit terkesan spooky. Di sisi kanan dan kiri terdapat ruangan-ruangan kosong dan luas. Di sisi kiri, ada ruangan yang bisa dikatakan mirip aula, tapi tanpa meja dan kursi. Tentu bukan kursi pimpinan DPR. Benar-benar melompong sehingga membuat suara kita bergema ketika berada di dalamnya. Deretan jendela-jendela besar yang terbuka ke atas turut menghiasi ruangan ini. Dengan ukuran ruangan yang lebar dan jarak yang tinggi antara lantai ke langit-langitnya, saya merasa seperti upil plankton


Wq.

     Lalu di sisi kanan, masih terdapat ruangan-ruangan kosong juga, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil (34B atau 36B?). Ruangan ini seukuran kamar biasa, berderet selayaknya ruangan-ruangan kantor, dan antar ruangan dipisah tembok bercat putih dengan pintu yang berada di tengahnya. Deretan pintu-pintu ini menciptakan kesan layaknya koridor memanjang yang kian jauh seolah kian mengecil. Spot ini menjadi salah satu spot wajib foto juga jika berkunjung ke Lawang Sewu. 




     Saya sempat menyusuri lantai 1 sendirian, karena orangtua saya sedang ngaso sejenak (tapi ngasonya bukan di kantin sekula'an sembari nyomot gorengan). Ketika menengok ruangan-ruangan di Gedung B ini, lumayan bikin bergidik juga. Terutama ketika masuk ke ruangan yang saya bilang mirip aula. Mungkin karena saking luas dan kosongnya, saya jadi membayangkan yang aneh-aneh. Terlebih saya datang di hari kerja dan masih pagi, jadi suasana masih teramat sepi. Mungkin si noni-noni Belanda lagi sarapan di warung bubur ayam mamang-mamang pengkolan. Tim bubur ayam diaduk atau bukan?

     Saya melanjutkan menyusuri koridor lantai 1 hingga ke ujung. Di belakang terdapat halaman kecil dengan beberapa tanaman dan rerumputan. Terpajang pula sebuah kereta mini dan tempat parkir sepeda yang nampaknya sudah tidak terurus. Tapi kereta mininya tidak bisa dimainkan. Ini bukan di mall ya, kids. Mushola juga berada di bagian belakang gedung ini. 



"Lalu dimana letak ruang bawah tanahnya?" gumam saya dengan dahi mengernyit. 

     Lawang Sewu identik dengan ruang bawah tanahnya yang cukup tersohor. Ruangan yang pernah difungsikan sebagai penjara bawah tanah tersebut selalu membuat saya penasaran untuk merasakan atmosfernya (sok berani). Karena ruangan yang saya temui di dekat pintu masuk tadi tidak ada akses ke bawahnya, berarti ada akses lain. Ternyata sebelum tangga yang berada di ujung koridor, terdapat ruangan dengan pintu tertutup dan tertempel kertas pemberitahuan penutupan sementara. Itulah akses menuju ruang bawah tanah yang sedang direnovasi sehingga belum bisa dibuka untuk umum. Seperti aurat, tidak dibuka untuk umum. Kecuali auratnya Dedek Molen.


Pintu menuju ruang bawah tanah = pintu penentu level keberanian

Kendall Jenner pun sangat sad tidak bisa menengok the underground of Lawang Sewu...


***

    Beranjak ke lantai 2, suasananya sama seperti lantai 1. Hanya terdiri dari ruangan-ruangan luas dan kosong dengan jendela-jendela besarnya. Saya kurang tahu apakah ruangan-ruangan ini biasanya digunakan untuk acara umum atau tidak. Tapi bukan untuk syuting acara Katakan Putus ya, gengs. Saya menyusuri lantai 2 bersama Bapak. Kami sempat santai sejenak di balkon bagian luar. Dari tempat ini, saya bisa melihat bangunan DP Mall yang berada di samping Lawang Sewu. Sebuah pemandangan yang kontras, dimana bangunan mall tersebut merupakan bangunan modern, sementara di sebelahnya terdapat Lawang Sewu yang mempertahankan gaya kolonial Belanda. Saya merasa berada di "pintu perbatasan" masa depan dan masa lalu. Tapi pintu ini tidak membahayakan. Yang membahayakan hanyalah pintu perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan.  








     Di lantai 2 Gedung B ini terdapat jembatan penghubung ke lantai 2 Gedung A, namun ujungnya ditutup supaya tidak ada pengunjung yang nekat masuk. Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, lantai 2 Gedung A ditutup untuk umum en aidonowaaaiii. Selayaknya jembatan pada umumnya yang sering dipakai nongkrong, di jembatan ini juga dipakai beberapa pengunjung untuk nongkrong santai sembari berfoto dengan mirrorless kesayangan. Beberapa pengunjung wanita yang mayoritas adalah antek ter-Fujilah, terlihat sibuk mengoleskan kembali gincu yang memudar, agar ketika berfoto tetap terlihat cantik seperti bintang iklan. Bintang iklan Baljitot. 

     Sebelum turun kembali ke lantai 1, saya melihat ada anak tangga keatas lagi. Mungkin lantai paling atas Gedung B. Namun saya sedikit ragu karena jika dilihat dari bawah terkesan seperti loteng yang sunyi dan spookySudah jelas, itu bukan kamarnya Kevin McCallister. Kendall penasaran tapi plenjir, njuk kepiye? Bapak saya juga tidak mau diajak naik. Okelah, lupakan saja meski hati masih penuh dengan rasa penasaran yang belum tuntas. Seperti rasa penasaran soal seberapa gede bakpaonya Si Papa. Segede bakpao Mega Jaya atau bakpao disajikan dalam keadaan hangat?



Ini tangga menuju lantai paling atas Gedung B. Monmaap semua fotonya ngeblur. 

"Itu ruangan untuk nyimpen arsip-arsip, Mbak. Naik aja, ndak apa-apa," kata salah seorang pegawai di Lawang Sewu ketika saya bertanya soal ruangan yang mirip loteng tersebut.

"Naik aja, ndak apa-apa" 
"Naik aja, ndak apa-apa"
"Naik aja, ndak apa-apa"
Tapi saya... asudahlah. Kami memutuskan untuk turun saja. Menuruni tangga yang difungsikan sebagai jalur turun, harus hati-hati. Baidewai, tangga naik dan tangga turun di Gedung B ini dibedakan jalurnya. Di tangga turun yang terbuat dari marmer ini, beberapa bagian terlihat cuil. Anak tangganya sendiri lumayan kecil dan sempit, jadi hati-hati saja. Bagian yang cuil itu memang dipertahankan seperti apa adanya atau sudah waktunya renovasi? 





Next: Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 3)


Sabtu, 28 Oktober 2017

Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 1)

Kamis, 14 September 2017

     Kaca jendela sedikit terbuka, menghantarkan udara pagi menyelinap masuk ke dalam mobil yang kami tumpangi. Perlahan hawa segar menerpa wajah saya. Mungkin semacam diterpa ababnya Jason Statham. Udara pagi nan segar ini membuat kantuk menyerang. Namun saya enggan memejamkan mata, karena pemandangan di sepanjang jalan tol Semarang sangat haram untuk dilewatkan. Tapi tidak termasuk pemandangan sopir truk "Pulang Malu, Nggak Pulang Rindu" yang sedang pipis sembarangan. Seharusnya tulisan di truk bisa diganti menjadi, "Pipis Malu, Nggak Pipis Batu Empedu". Yha.

     Masih pukul 07.00 WIKB (Waktu Indonesia bagian Kebelet Boker), tapi lalu lintas Kota Semarang sudah padat merayap. Benar-benar merayap. Udara segar pun seketika lenyap. Sementara keringat dingin mulai bercucuran. Di sepanjang jalan yang kami lewati, saya tidak menemui SPBU atau masjid. Jadi yang saya lakukan hanya berdoa dan sebisa mungkin tidak terlalu banyak bergerak hingga tiba di tujuan, yaitu kos adik saya. Perjalanan pagi memang ada ples maines-nya tersendiri. Atau haruskah saya sangu batunya Ponari?

     Ini adalah perjalanan kedua saya ke Semarang. Yang pertama nunut "nyelehne bokong" saja, karena hanya angkut-angkut barang ke kos adik saya yang mau PKL (Praktik Kerja Leyeh-Leyeh) di Stasiun Poncol selama 2 bulan. Yang kedua, dalam rangka angkut-angkut barang juga karena sudah rampung PKL. Tapi yang kedua ini, saya punya sedikit waktu longgar untuk jalan-jalan sebentar di Semarang bersama Bapak dan Ibu saya. Minimal mengunjungi tempat yang menjadi ikon plat H ini. 

***


"Ku ingin ke Lawang Sewu"

     Ya... Memang sudah lama saya ingin menapakkan kaki di Semarang, terutama di Lawang Sewu. Berbagai potret ke-eksotis-an bangunan tua karya arsitek Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag dari Amsterdam ini selalu memancing perhatian saya, termasuk segala kisah misteri yang berada di belakangnya (Berani? Nope!). Keinginan itu selalu saya gumamkan sejak jaman jahiliyah. Namun baru bisa terealisasi di jaman now. Untung saya teguh iman dan tidak mengubah keinginan menjadi, "Ku ingin ke Meikarta"





     Setelah menebus tiket masuk seharga Rp 10.000 saja per lembarnya (ini lembar tiket masuk Lawang Sewu bukan lembar saham, bukan pula lembar tiket foto bareng Rando), kami memasuki area halaman depan bangunan yang berlokasi di dekat Tugu Muda Semarang ini. Dari loket, saya bisa melihat sebuah lokomotif tua terpajang di halaman depan. Spot yang pasti akan digemari bocah-bocah cilik, dimana mereka bisa berandai-andai menjadi seorang masinis. Bukan berandai-andai layaknya Rahul yang berlari manja mengejar kereta yang membawa Anjali dalam film Kuch Kuch Hota Hai

     Lalu saya pun berjalan menuju pos pemeriksaan tiket, sembari sesekali mengambil foto gedung dari luar karena cahaya pukul 08.00 masih bagus (kek ngerti aja). Sebelum pos pemeriksaan tiket, terdapat sebuah bangunan kecil yang awalnya saya kira itu adalah pos satpam atau bangunan tidak penting. Setelah mencari info, ternyata bangunan tersebut adalah sumur tua. Kan bahlul, sumur tua dikira pos satpam. Mau menengok ke dalam? Santai, tidak akan ada tubuh nenek "Pengabdi Setan" yang mengapung. 




Wah...ternyata penjaga sumur tua ini si Bruno Mars

***

Gedung A




     Seusai melewati pos pemeriksaan tiket, kami pun masuk ke gedung paling depan yang disebut Gedung A. Lawang Sewu terdiri dari Gedung A, B, C, D, dan E. Sebelum memulai tour, saya sarankan untuk menengok terlebih dulu peta yang terpajang di dekat pos pemeriksaan tiket. Disitu dijelaskan alur pengunjung yang hendak berkeliling Lawang Sewu supaya tidak kebingungan dan lebih jelas saja tujuan hidupnya. 


Mirror wefie di pintu kaca Gedung A

     Memasuki ruangan di Gedung A ini layaknya masuk ke sebuah galeri, dimana banyak terpajang berbagai koleksi foto dan lukisan yang menggambarkan sejarah Lawang Sewu. Bahkan hingga proses renovasi dan perawatannya juga didokumentasikan. Tidak hanya tentang Lawang Sewu, sejarah tentang per-kereta api-an Indonesia turut dipamerkan disini. Salah satunya adalah potret "doeloe dan sekarang" stasiun-stasiun kereta api di Indonesia. Saya suka melihat foto-foto semacam itu. Seperti dibawa lorong waktu, kembali ke masa lampau. Lalu, kenapa isinya tentang kereta api semua?




  


 
     Lawang Sewu, yang dibangun pada tanggal 27 Februari 1904 dan selesai pada bulan Juli 1907, dulunya difungsikan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij atau yang lebih sering disebut kantor NIS. NIS yaitu kantor pusat perusahaan kereta api swasta yang pertama kali membangun jalur kereta api, menghubungkan Semarang dengan "Vorstenlanden" (Surakarta dan Yogyakarta) dengan jalur pertama Semarang-Temanggung 1867. Setelah digunakan sebagai kantor NIS, gedung Lawang Sewu mengalami beberapa kali alih fungsi sebagai berikut:
  • Sebagai kantor Riyuku Sokyuku (Jawatan Transportasi Jepang) di tahun 1942-1945.
  • Sebagai kantor DKRI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia) di tahun 1945.
  • Sebagai markas tentara Belanda pada saat agresi militer di tahun 1946.
  • Digunakan oleh Kodam IV Diponegoro pada tahun 1949.
  • Lalu di tahun 1994, diserahkan kembali kepada kereta api (saat itu PERUMKA, sekarang menjadi PT. KAI).
  • Beberapa tahun kemudian digunakan oleh Dinas Perhubungan.
  • Mulai tahun 2009, dipugar oleh PT.KAI (Persero).  

Paragraf yang sangat berfaedah bukan? 




Lukisan yang menggambarkan tentang stasiun-stasiun  kereta api di Indonesia


     Tidak mengherankan jika di dalam gedung Lawang Sewu banyak sekali dipamerkan segala hal yang berhubungan dengan kereta api. Tidak hanya koleksi foto dan lukisan, terdapat pula beberapa koleksi miniatur kereta api tua, loket, tiket kereta api, alat pencetak tiket jaman dulu, dan lain sebagainya. Jika kalian mencari koleksi Thomas and Friends, mohon maaf salah tempat. Replika lokomotif tua yang terbuat dari kayu juga turut dipajang dan bisa dipakai untuk background foto bagi panjenengan-panjenengan yang hobi berselfie. Oleh sebab itu, ruangan ini dinamakan Ruang Pamer. Sedikit terdengar riya' yha? Yha. 


Miniatur gerbong kereta api 

Miniatur lokomotif kereta api tua

Loket tiket (oke, harus hati-hati ngetiknya, rentan typo, saya takut)

Tiket kereta api jaman dulu

Alat pencetak tiket

Menggemaskan sekali telepon kayu ini. Bawa pulang boleh?
.
Bapakke

Mbokke
Anakke

      Ruang demi ruang saya jelajahi, hingga kemudian saya menghentikan langkah di bawah sebuah tangga besar dan terkagum-kagum dengan apa yang saya lihat. Dinding kaca patri yang menjulang dengan lukisan dan warna yang cantik terpampang di kedua mata saya. Lalu saya menaiki tangga agar bisa melihat lebih dekat. Ini kelewat keren, njir! Menurut saya, ini spot paling menarik di dalam Gedung A. Saya awam seni, jadi yang saya tahu hanya bagus atau tidak. Sudah. 

    Desain hasil tangan J.L. Schouten, seniman kaca asal Belanda ini, memuat makna tersendiri di tiap panelnya (browsing saja ya, terlalu panjang kalau saya tulis disini. Wk). Karena dinding kaca patri ini menghadap matahari, maka agak susah untuk mengambil foto dengan kamera ponsel. Iya, saya getun tidak berhasil mengambil foto dinding kaca patri tersebut karena backlight. Kamera ponsel saya tidak mampu menangkap detail kecantikan lukisan dan warnanya. Sempat mendengar dari seorang guide yang sedang mendampingi rombongan wisatawan yang berada di sebelah saya, bahwa dinding kaca patri ini hanya bisa dipotret dengan menggunakan kamera profesional. Mungkin kamera ponsel bisa, tapi kamera ponsel dua belas juta. Okeoce, tunggu saya masuk Alexis dulu. 

      Puas mengagumi ornamen cantik tersebut, saya pun menoleh ke belakang. Ternyata ada tangga untuk menuju lantai 2. Namun, akses tersebut ditutup. Ada papan larangan masuk yang terpasang di dua tangga yang berada di sisi kanan dan kiri tangga besar. Sayang sekali, padahal kan penasaran. Tidak ada penjelasan kenapa lantai 2 tidak dibuka untuk umum. Tapi tetap tidak boleh melanggar aturan karena saya sempat baca tata tertib pengunjung, salah satunya tidak boleh membuka ruangan yang tertutup. Tak kira yang tertutup hanya bengkel ketok mejik

     Ada satu lagi ruangan yang tidak dibuka untuk umum di gedung ini. Saya sempat melihat ruangan yang mirip seperti ruang tamu, lengkap beserta kursi dan meja. Ruangan ini hanya dapat dilihat dari luar. Tidak ada informasi apakah ruangan ini dulunya memang dipakai untuk menjamu tamu atau tidak. Sebelum beranjak dari Gedung A, jangan melewatkan untuk berfoto dengan latar deretan pintu bergaya lawas dan berwarna cokelat tua yang memanjang ke belakang. Spot ini menjadi salah satu spot ikonik di Lawang Sewu. Selain itu, berfoto dengan background miniatur Benteng Willem I juga sangat pas untuk menambah koleksi foto di galeri ponsel kalian. Benteng Willem I atau yang lebih dikenal dengan nama Benteng Pendhem Ambarawa, merupakan bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang terletak di Ambarawa. 

     Dari dipamerkannya miniatur kereta api hingga benteng, kalau boleh saya bilang, wisata Lawang Sewu akan lebih cocok sepaket dengan Museum Kereta Api Ambarawa (lalu saya seperti ditampar sempak Hulk sebagai pengingat kalau belum rampung juga menulis soal Museum Kereta Api Ambarawa, padahal sudah dari jaman Andika Kangen Band masih perjaka). Jika di Lawang Sewu kita hanya bisa melihat miniaturnya saja, di Museum Kereta Api Ambarawa kita bisa melihat wujud asli si kereta tua. Benteng Willem I pun bisa juga disinggahi karena lokasinya tidak terlalu jauh dengan Museum Kereta Api Ambarawa. Tapi saya juga belum pernah ke bentengnya ding. Mbok aku dijak...





Hweee... Melu-melu

Hweee... Melu-melu



Next: Lawang Sewu, Sebuah Lorong Waktu (Part 2)