Tampilkan postingan dengan label Wisata Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Pantai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

Ber-Sabtu Malam-an di Sadranan (Part 2)




     Di depan kami, segerombolan mas-mas bertelanjang dada sedang asyik menendang dan melempar bola sembari tertawa lepas. Bahagia, tanpa beban. Lain kali pakai miniset ya, Mas. Itu teteknya kendor, lari kesana-kemari. Ada pula gerombolan mas-mas lain yang sibuk mengais pasir pantai untuk "mengubur" temannya (gojekan jaman Warkop de-ka-i belum kenal luwak weit kofi). Tidak jauh dari mereka, banyak anak kecil kegirangan bermain ciprat-cipratan air pantai sembari sesekali meringis keasinan. Ada pula tiga orang cewek-cewek centil dengan muka pucat tanpa gincu dan pensil alis, sibuk mengarahkan lensa kamera untuk mendapatkan pose selfie terbaik. Dari arah parkiran, satu-persatu pengunjung mulai berdatangan dengan menenteng kamera dan tongsis kebanggaan. 

     Jarum jam memang masih menunjukkan pukul 06.00, tapi suasana pantai sudah mulai ramai. Ramai sekali. Kami pun mulai beberes tenda dan perintilan-perintilan lainnya. Jangan lupa bereskan sampah dan buang ke tempatnya. Selesai beberes, barulah kami berjalan-jalan menikmati pantai di pagi hari. Pantai Sadranan ini cantik dan cukup bersih. Saya, sangat suka! Ya meskipun masih ada satu-dua sampah yang berserak. Di sisi timur, ada batu karang besar yang berada di tengah-tengah. Kalau sewaktu air surut, katanya kita bisa jalan menyeberang dan naik kesana. Tapi yang jadi PR, sewaktu sudah diatas lalu tiba-tiba air kembali pasang, njuk mulihmu piye?







Photo by: Sugeng






Ini anak semalaman ngajak cari ikan mulu. Ngidam iwak ra ketulungan.  (Photo by: Sugeng)
     
     Masih di sisi timur pantai, ada tebing yang sepertinya bakal seru kalau kita naik ke atas sana. Dari bawah, tebing ini sudah sangat foto-able. Anak tangganya didesain sedemikian rupa dengan ornamen batu-batuan dan tanaman-tanaman cantik di kanan-kirinya. Katanya, diatas tebing terdapat bangunan villa mewah, tapi sudah lama tidak dipakai. Hmm...penasaran. 









Photo by: Sugeng

Spot terasoy di Pantai Sadranan


     Wow! Begitu sampai atas tebing, view pantai dan laut lepas terbentang di depan mata. Mata kami serasa dimanjakan. Di sisi kanan Pantai Sadranan, saya bisa melihat Pantai Slili dan Pantai Krakal. Sedangkan di sisi kiri, ada Pantai Ngandong dan Pantai Sundak yang tidak kalah ciamik. Lalu pandangan saya tertuju pada kamar-kamar villa yang memang nampak tak terurus. Padahal "surga" sekali ini, ada villa diatas tebing dengan view laut lepas. Kemudian ada satu lagi bangunan besar, seperti aula atau tempat makan villa (saya kurang tahu), yang justru masih bagus dan rapi. Tapi tidak ada orang sama sekali di dalam. Kurang tahu apakah villanya masih sering dipakai atau tidak.


View sisi kanan Pantai Sadranan

Idem

View sisi kiri Pantai Sadranan

Percayalah, ini kacanya yang burem. Bukan muka kita-kita yang belum mandi ini yang burem.

Yuli

Amer


Gal Gadot

***

     Banyak yang bisa dilakukan di Pantai Sadranan ini. Kalian bisa main layangan, karena ada yang menjajakan layangan di pantai. Beberapa gazebo yang berderet di pinggir pantai juga seakan melambai-melambai dan berteriak manja "Hey...come to me, baby!". Cocok untuk yang ingin pacaran. Hanya dengan Rp 20.000, gazebo ini bisa disewa sepuasnya. Bahkan juga bisa disewa semalaman penuh, jika kalian ingin ngecamp tapi tanpa tenda. Kata mase yang dari komunitas vespa Jogja itu, harga sewanya Rp 20.000 juga untuk semalaman. Kemudian bagi yang ingin menikmati kecantikan bawah air Pantai Sadranan, bisa mencoba snorkeling dengan merogoh kocek Rp 50.000, durasinya 2 jam. Atau kalian mau keplek ilat alias makan-makan saja? Bisa! Di Pantai Sadranan sudah terdapat banyak warung makan dengan menu utama ikan dan olahan seafood lainnya.








     Sementara bagi yang ingin bermalam, disini sudah banyak penginapan dengan tarif yang berbeda-beda. Atau mau merasakan bermalam dibawah tenda seperti kami, tapi kalian tidak bawa tenda? Kalian bisa menyewa tenda di pantai untuk kemping di area camping ground, yang terletak di bawah tebing bagian timur. Nah...sebenarnya kami fail nih kemping di Pantai Sadranan, karena pantainya sudah ramai dan tertata sekali. Bukan apa-apa, tapi "feel" kempingnya sedikit hilang. Oiya, untuk keperluan ke belakang alias toilet, kami hanya membayar Rp 5.000 untuk semalaman. Tarif itu disarankan oleh ibu-ibu pemilik warung sekaligus kamar mandinya. Hanya dengan lima ribu rupiah sudah bisa pipis sejebolnya. Warung si ibu ada di dekat parkiran, pokoknya yang ada spanduk "Pop Mie". Di Pantai Sadranan ini mungkin kekurangannya hanya satu, yaitu belum tersedia mushola yang memadai. Untuk keperluan sholat, hanya disediakan sebuah kamar sederhana di dekat parkiran, yang menyatu dengan warung makan. 

***

     Sekitar pukul 10.00, kami pulang. Di perjalanan, kami sempat mampir di satu tempat -entah apa namanya-. Tempat ini seperti bukit dengan "krowakan" di tengahnya. Nah, di bawah katanya terdapat 2 goa. Yang satu bisa tembus ke pantai, satunya lagi tembus ke goa yang lain. Tempat ini asyik. Mungkin ada yang bisa kasih info ke saya soal tempat ini? Lokasinya masih di kawasan Gunungkidul. Kalau kalian melewati jalan alternatif Gunungkidul-Solo, pasti melewati. Tapi, karena tempatnya gersang, disarankan untuk tidak kesana pas siang bolong. Bunuh diri, namanya.





Sepertinya goa yang dimaksud adalah bolongan dibawah itu.


In frame: Amer.


     Hanya sebentar saja kami mampir, kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Melewati jalan pedesaan dengan kanan-kiri pepohonan rindang, cukup "menghanyutkan" kami. Suer! Ngantuk parah! Saya boncengan sama Yuli dan saya yang di depan. Berulang kali, saya cari cara untuk menghalau kantuk. Mulai dari nyubit tangan sendiri, nampar pipi sendiri, nyanyi-nyanyi, ngedance, ngeteh, ngopi-ngopi, udud-udud, main catur, main karambol, main remi, main domino, sampai main dingdong. Kagak ngefek! Bahkan si Yuli di belakang sudah nyender aja. Tidur dia. Seumur-umur, baru kali ini saya naik motor diserang kantuk parah. 

     Beruntung kami segera sampai di rumah Very, di daerah Weru, Sukoharjo. Kami pun mampir untuk istirahat sebentar (baca: minta makan. M-i-n-t-a.). Sekitar satu jam kami goleran di rumah Very. Cukuplah untuk menyegarkan badan dan mata. Karena sudah sore, kami segera pulang. Saya sampai rumah sekitar pukul 17.00, dengan badan asli lengket parah karena tidak mandi. Sudah bayar toilet dan ente tidak mandi, Tik? Males. Sip.

     Menghabiskan Sabtu malam dengan teman, dapat teman baru, dapat pengalaman baru, jadi tahu teman-teman yang pada pinter ngapa-ngapain dan saya yang tidak bisa ngapa-ngapain. Akhir pekan yang menyenangkan. Terimakasih untuk Very dan keluarga yang rela menampung gembel-gembel ini, yang cuma mau numpang makan dan tiduran. 

Terimakasih.
Ketjoep!



Terimakasih, Sadranan...

     Sembari rebahan, saya pun mengambil kamera dari dalam tas dan melihat hasil foto-fotonya. Lalu, tangan saya berhenti mengklik next ketika sampai di salah satu foto. Hmm...not bad uga kita walau tanpa gincu dan pensil alis.


Di kaos saya itu remah-remah pasir pantai ya, bukan ketombe. FYI saja.

Ber-Sabtu Malam-an di Sadranan (Part 1)

Sabtu, 20 September 2014




     Sabtu malam? Iya, karena saya sedang tidak bersama pacar. Kalau sama pacar, judulnya malam minggu. Iya, gitu. Sabtu malam ini, saya dan teman-teman menghabiskan waktu dengan kemping di pantai. Ini kemping pertama saya di pantai, btw. Paling banter kemah persami pas jaman SMP dan SMA, itupun cuma di lapangan atau halaman sekolah. Meski cuma di sekolahan, tapi cukup horor juga karena ada yang kesurupan. Terus, ente mau cerita kesurupan atau kemping di pantai, Tik?

     Jadi saya, Amer, Very, Sugeng, dan Yuli memutuskan untuk memilih Pantai Sadranan menjadi lokasi kemping kali ini. Sebenarnya ada Sekar juga, tapi mendadak di hari H dia tidak bisa ikut. Belum sedia bikini, katanya. Kami berlima berangkat dari Solo sekitar pukul 13.30 dan tiba di lokasi sekitar pukul 17.00. Kok lama? Ya karena mampir-mampir dulu. Setelah mencari tempat yang sekiranya aman dan nyaman, kami langsung mendirikan tenda. Emm...tidak, tidak, saya tidak ikutan. Biar menjadi urusan mereka-mereka, karena saya cupu parah kalau perkara tenda-tendaan.

     Petang hampir tiba, saya pun tidak sabar untuk melihat pendar senja. Salah satu tujuan saya kemping adalah untuk menikmati senja di pantai. Dan...keberuntungan belum memihak saya. Mendung menghalangi senja menyapa. Yasudah, masih ada sunrise esok hari. Begitu batin saya untuk ngayem-ayem diri sendiri.

     Malam menjelang, makin banyak pula yang datang ke Pantai Sadranan untuk kemping. Salah tempat ini sepertinya. Kemping kan lebih asyik kalau sepi nggih? Karena kebetulan malam Minggu, eh...Sabtu malam juga, jadi banyak sekali yang numpang tidur di pantai yang terletak di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul ini. Belum lagi banyak rombongan keluarga yang datang untuk bermalam di penginapan sekitar pantai. Ruamene ra umum, dab!



Ini bukan ritual pemujaan setan ya...


     Kami mulai membedah logistik masing-masing dan menyiapkan makan malam yang mewah. Mewah? Memangnya bawa apa saja? The one and only, Indomie! Kami sangu nasi kucing juga. Lah mewah dari mana? Mewah bukan perkara makanannya apa, tapi makannya sama siapa (cieeee gitu). Makan sesederhana apapun, kalau bareng-bareng teman, akan terasa istimewa (cieeee lagi gitu).





Photo by: Amer

     Beres makan, kami hanya berbincang-bincang random hingga malam mulai larut. Sangat mengasyikkan, tidur beralas pasir dan beratap langit dengan sapuan bintang yang muncul malu-malu. Tak lupa, acara bakar jagung juga mengisi malam kami. Jagung crispy rasa wijen (baca: pasir pantai) menjadi menu santap yang hmmmmm...



Photo by: Amer

     Dini hari, saya, Amer, dan Yuli menyempatkan untuk jalan-jalan susur pantai. Widih, banyak uga yang kemping. Ada yang kemping iseng-iseng seperti kami, ada yang kemping untuk mengikuti acara kampus, ada pula dari komunitas yang ngecamp sebagai agenda rutin mereka. Nah, sewaktu jalan, ada dua mas-mas dari komunitas vespa Jogja yang menghampiri kami. Kebetulan mereka ngecamp juga. Jadilah kami ngobrol ngalor-ngidul, sharing segala hal. Dari mas-mase itu, saya juga tahu kalau layangan bisa digunakan sebagai drone. Mosok sih? Eh, mas-mase namanya siapa? Embuh, saya lupa.

     Pukul 03.00, kami balik ke tenda karena udara makin dingin dan perut meronta-ronta minta diisi adek, eh... minta diisi makan. Di tenda, Sugeng masih asyik gitaran sendiri. Very? Wis tekan Selat Gibraltar. Lupakan Very, mari bikin Indomie. Kami tidak punya ide untuk bawa bekal apa lagi selain Indomie. Terlebih ingin yang simpel-simpel saja. Kelar makan, kami tidur sebentar sebelum melihat sunrise. Dan.. FAIL! Kami baru bangun setelah sinar matahari menyelinap di sela-sela tenda. Ah! Sunset gagal, sunrise luput dari genggaman. Mungkin ini pertanda kalau suatu hari kami disuruh kembali lagi. Mungkin gitu. Iya. Mungkin.


Muka-muka bangun kesiangan kagak dapet sunrise

Selasa, 31 Mei 2016

Mampir Makan di Ngrenehan

(4)
Kamis, 1 Mei 2014


Photo by: Amer

     Jarak dari Pantai Nguyahan ke Pantai Ngrenehan hanya sekedipan mata. Keluar dari Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan, ikuti saja jalan arah pulang, beberapa meter nanti ketemu pertigaan, ambil arah kanan. Begitu sampai, kami langsung mencari warung makan. Warung makan mulu yang dicari, calon suami kapan? Btw, kami mencari warung makannya random, yang penting kelihatan meyakinkan dan bersih. Saya tidak terlalu ngeh nama warungnya. Pokmen yang di pojok jalan sebelah kiri kalau tidak salah ingat, dekat mushola.

     Langsung saja kami memesan makanan, setelah tanya-tanya harga terlebih dahulu tentunya. Saran ya, dimanapun kalian makan, kalau tidak ada daftar harganya, usahakan untuk bertanya terlebih dahulu. Gengsi dong! Malu dong! Isin dong! Halah! Lebih milih menyelamatkan gengsi atau dompet? 

     Sembari menunggu pesanan datang, sebenarnya kami bisa jalan-jalan terlebih dahulu ke pantainya. Sepertinya asyik. Tapi, nyawa ini sudah terlanjur menempel di bangku. Hanya Amer yang turun ke pantai. PiyambakanKalau dilihat sekilas, Pantai Ngrenehan lebih indah dari pantai sebelumnya, meski tidak terlalu luas. Adanya dua tebing karang yang berada di sisi kanan dan kiri, mengesankan seolah pantai ini seperti "tersembunyi". Tapi sepertinya sedikit kurang nyaman untuk main-main air, karena pantai ini digunakan pula untuk "lalu lintas" dan tempat bersandar kapal-kapal nelayan. Saya juga butuh sandaran sih sebenarnya. Tapi yang mengasyikkan, kita bisa melihat aktivitas para nelayan. 


Photo by: Amer

     Kalau ada kapal nelayan, biasanya ada pelelangan ikan. Ya...di Pantai Ngrenehan memang terdapat tempat pelelangan ikan. Emak-emak pasti suka ini. Ikan-ikan segar bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Bagi yang ingin makan di pantai ini, bisa membeli seafood di tempat pelelangan ikan untuk kemudian diolah di warung makannya. Atau bisa pula langsung memesan semua-semuanya di warung makan, kalian tinggal duduk manis. Harganya pun tidak jauh berbeda. Tergantung selera. Kalau saya sih seleranya yang agak-agak brewokan seksi gitu.

     Makanan datang! Cukup lama kami menunggu pesanan kami datang. Ya kira-kira 14 purnama. Untuk makan siang ini, kami membeli sekilo cumi di pelelangan ikan, seharga Rp 50.000. Di warung makan, kami minta cumi ini diolah menjadi dua rasa, yaitu cumi lombok ijo dan cumi asam manis. Total uang yang kami berenam keluarkan untuk makan siang ini sekitar Rp 90.000, sudah termasuk nasi, lalapan, sambal, dan minuman. Tidak tahu ini terbilang mahal atau murah. Selak keluwen je. Kelar makan, kami pun pulang. Iya, tujuan kami ke Pantai Ngrenehan ya cuma makan.

Terimakasih.
Ketjoep!

Pantai Nguyahan

(3)
Kamis, 1 Mei 2014




"Yah...airnya buthek!"

     Seperti itu kira-kira ekspresi saya sewaktu sampai di Pantai Nguyahan, bukan "nguyuhan" ya. Mungkin semalam hujan, jadi air pantainya buthek (keruh, kecoklat-coklatan, tapi coklatnya matte, bukan shimmer). Bayangan saya akan air pantai yang jernih, biru, bersih, suci, aman, tentram, nyaman, bisa main air sepuasnya, langsung buyar. Memang, ke pantai di musim hujan itu untung-untungan.

   Suasana Pantai Nguyahan tidak jauh berbeda dengan Pantai Ngobaran, sedang ramai-ramainya. Yaiya...lha wong pantainya jejeran. Karena Pantai Ngobaran kurang nyaman untuk bermain air, pengunjung "menyerbu" Pantai Nguyahan demi bisa keceh-keceh manja. Untuk yang kemayu tidak mau panas-panasan, bisa santai-santai saja di gazebo yang disewakan di pinggir pantai. Sesantaian saja? Kalau lapar atau haus belaian? Di Pantai Nguyahan ini sudah banyak warung-warung makan yang akan memanjakan perut kalian. Tapi satu hal yang bikin saya risih, ada ayam berkeliaran di sekitar warung makannya. Pitik yo butuh santai di pantai, bos!










     Pantai Nguyahan ini memiliki garis pantai yang tidak terlalu panjang. Pantainya sempit, kalau saya bilang. Sayang sekali, kami datang disaat air sedang pasang. Kalau pas surut, kalian bisa main di bawah tebing yang agak menjorok sehingga membentuk cekungan di bawahnya. Sedikit horor sih main-main di bawah tebing. Saran saya, mending jangan ambil resiko.








Lagi ngobrolin harga bawang dan cabe

Untuk menciptakan foto (yang nampak) bahagia bersama, butuh sedikit perjuangan seperti...

ini...
Bebas, Ver. Bebaaasss. 


     
     Tanpa terasa, hari sudah memasuki Waktu Indonesia Bagian Rolasan. Perut pun mulai keroncongan. Kami segera cabut dari Pantai Nguyahan. Kenapa tidak sekalian rolasan disini? Karena masih ada satu pantai lagi, maka sekalian saja makan siang disana. Mau makan siang sama kami? Yuk, ikut ke Pantai Ngrenehan


Terimakasih, Pantai Nguyahan

Jogja Rasa Bali

(2)
Kamis, 1 Mei 2014

     Kalau ingin ke pantai dengan suasana yang berbeda dengan pantai-pantai lain di Gunungkidul, pilihan yang tepat jika kalian mengunjungi Pantai Ngobaran. Pantai ini sangat sangat sangat ngehits di kalangan traveler karena keunikannya. Tidak mengherankan sewaktu kami sampai, sudah banyak sekali pengunjung yang memadati pantai ini. Sik...sik...terus yang dimaksud "Pantai Triple N" kuwi apa? Jadi, Pantai Ngobaran diapit oleh dua pantai, yaitu Pantai Nguyahan dan Pantai Ngrenehan. Sama-sama memiliki huruf depan "N", so saya menyebutnya "Pantai Triple N" (Ngobaran, Nguyahan, Ngrenehan). Iya. Gitu. Ketika kalian berkunjung ke Pantai Ngobaran, afdolnya ke Pantai Nguyahan dan Pantai Ngrenehan pula. Jangan khawatir, lokasinya berdekatan kok. Sedekat aku dan calon suami...temanku. 

     Lalu, apa yang membuat orang-orang tertarik berkunjung ke Pantai Ngobaran? Dimana keunikannya? Adanya pura, bangunan seperti candi, patung-patung, dan ornamen batu-batuan lainnya, seakan membuat pengunjung dibawa ke suasana Pulau Dewata. Cocok untuk saya yang minim budget, tapi ingin mengobati rindu akan Bali beserta bule-bule gantengnya. Coba ditambah dengan iringan gending ala-ala Bali. Ah, rindu Bali...



Sumber: https://www.brilio.net/news/pantai-ngobaran-sentuhan-nuansa-bali-di-gunungkidul--1508037.html

     Cerita mengenai asal-usul Pantai Ngobaran pun sepertinya juga menarik untuk disimak, meskipun masih diragukan kebenarannya oleh para sejarawan. Konon, Pantai Ngobaran dipercaya sebagai tempat pelarian terakhir keluarga Kerajaan Majapahit yang bersembunyi dari kejaran bala tentara Kerajaan Demak. Untuk menghindari serangan dari Kerajaan Demak yang waktu itu dipimpin oleh Raden Patah, putra Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, mereka memilih untuk meninggalkan kerajaan demi menghindari peperangan dengan anaknya sendiri. Dari Trowulan yang berada di Jawa Timur, rombongan keluarga Majapahit yang juga diikuti para selir dari negeri Campa, lari menuju pesisir selatan Jawa dan terus bergerak menuju ke arah barat menyusuri daerah sepanjang pantai. Perjalanan Brawijaya dan anaknya yang bernama Bondan Kejawan, berakhir di Pantai Ngobaran. Di puncak bukit Pantai Ngobaran, Raja Brawijaya mengelabui bala tentara Demak yang mengejarnya dengan melakukan laku pati obong, yaitu dengan seolah-olah membakar dirinya sendiri. Ketika melihat kobaran api di puncak bukit, maka pasukan Demak mengira bahwa Raja Brawijaya sudah wafat dengan cara membakar diri, lalu mereka menghentikan pengejaran. Pantai dimana pasukan Demak melihat kobaran api tersebut dinamakan Pantai Ngobaran, yang berasal dari kata kobaran. Puncak bukit yang dipercaya sebagai petilasan lokasi pati obong tadi, kini dibangun sebuah pesanggrahan bagi aliran kepercayaan Kejawan, mengambil nama dari putra Raja Brawijaya yang ikut bersama-sama dalam pelarian, yaitu Bondan Kejawan. Pesanggrahan ini dibangun dengan gaya arsitektur Hindu dan Budha dengan hiasan berbagai patung-patung tokoh pewayangan serta dewa-dewa dalam agama Hindu. (Sumber)

     Bagi yang ingin bermain air, bisa menuruni anak tangga di Pantai Ngobaran ini. Tapi sepertinya kurang nyaman untuk dipakai keceh. Kalau air sedang surut, kalian bisa melihat hamparan rumput laut berwarna hijau. Ada yang menyarankan waktu terbaik untuk datang ke Pantai Ngobaran adalah ketika menjelang senja. Jika beruntung, kalian bisa mendapatkan pendar senja yang luar biasa di pantai ini. Berfoto di spot-spot asik Pantai Ngobaran pun pantang untuk dilewatkan. Terlihat dari banyaknya pengunjung yang seolah "mengantre" untuk mendapatkan foto yang instagram-able dengan background "ke-Bali-an"  ala Pantai Ngobaran. Iya, mengantre. Pengunjungnya buanyak buanget, mulai dari ala-ala traveler gembel macam kami sampai ala-ala sosialita, ada semua. 






Saking banyaknya pengunjung, kami cuma bisa foto nyempil-nyempil begini. 

     Karena kondisi yang ramai itu, kami memutuskan untuk melipir saja ke tebingnya, sembari cari angin. Untuk naik ke atas tebing, kami menapaki entah berapa puluh anak tangga terlebih dahulu. Tidak begitu tinggi, hanya harus hati-hati. Di sisi kanan dan kiri anak tangga dipenuhi tanaman yang lancip-lancip gitu. Kegores dikit, lumayan bikin lecet dan perih. Saya, korbannya. Petakilan sih. Oiya, di atas tebing ada sebuah bangunan yang saya tidak tahu itu bangunan apa karena pintunya tertutup. Apa itu pesanggrahan yang dipakai Raja Brawijaya untuk laku pati obong? Ada yang bisa kasih info ke saya?




Rambut lepek-lepek manja adalah bakat.

Rida

Amer

Sekar

One...

Two...

Doooorrrr!

     Sesudah menikmati view cantik dari atas tebing -tapi gagal ngadem karena tidak ada angin sama sekali-, kami turun untuk menuju pantai selanjutnya. Cukup berjalan kaki saja mengikuti jalanan setapak menurun yang berada di samping tebing. Monggo, menengok Pantai Nguyahan.